suaramerdeka.com - Amblesnya tanah di Jalan Tol Semarang-Bawen KM 34+600 dikarenakan tanah di daerah tersebut tersusun atas struktur lempung serpih. Hal ini menyebabkan tanah akan pecah saat musim kemarau dan akan mengkerut saat musim hujan.
Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah Teguh Dwi Paryono mengatakan, munculnya amblesan di awal operasional tol justru dapat dikatakan baik. Sebab dengan demikian titik lempung serpih dapat diketahui secara persis untuk penanganan lebih lanjut. "Sifat lempung itu akan jadi bencana jika tersingkap. Nah ini justru dia sedang menunjukkan diri, dia memberi tanda dimana posisinya," katanya, Jumat (2/5).
Teguh meminta masyarakat tidak perlu khawatir karena struktur tanah demikian dapat diatasi dengan rekayasa teknologi. Ia pun yakin hal ini sudah diketahui pada masa perencanaan pembangunan jalan tol. Sebab pembangunan jalan tol sudah dilengkapi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang di dalamnya termasuk sisi geologinya.
Meski belum sampai pada taraf mengkhawatirkan, namun kemunculan lempungs erpih harus diantisipasi sejak sekarang. Teguh menyarankan, titik amblesan ditutup semen atau diberi penahan hingga ketebalan tertentu. Berapa luas dan tebal yang diperlukan bergantung pada penelitian di lokasi.
"Sebaiknya segera mendapat perlakukan khusus. Kemarin itu ambrolnya karena ada infiltrasi air, jadi harus dikasih saluran air untuk mengarahkan aliran. Kalau sudah ditutup semua, insyaallah aman," kata Teguh.
@
Tagged @ ROAD


0 komentar:
Posting Komentar - Kembali ke Konten